Sunday, March 27, 2011


Sapi yang Menangis by Ajahn Brahm


Saya tiba lebih awal untuk memimpin kelas meditasi di sebuah penjara dengan pengamanan minim. Seorang narapidana yang tak pernah saya jumpai sebelumnya, telah menunggu untuk berbicara dengan saya. Dia seorang manusia sebesar raksasa dengan rambut seperti semak belukar, berjanggut, dengan lengan-lengan penuh tato; bekas luka di wajahnya memberitahukan saya bahwa dia telah mengalami banyak perkelahian sadis. Dia terlihat begitu menakutkan sampai-sampai saya heran kenapa dia datang untuk belajar meditasi. Dia bukan jenis orang yang belajar meditasi. Tentu saja saya salah.

Dia berkata kepada saya bahwa belum lama ini terjadi sesuatu yang telah menghantui pikirannya. Saat dia mulai berbicara, saya menangkap kesan Ulster-nya yang kental. Untuk memberikan gambaran latar belakang, dia bercerita bahwa dia tumbuh besar di jalanan Belfast yang penuh kekerasan. Kasus penikamannya yang pertama terjadi pada saat dia baru berumur tujuh tahun. Seorang berandal di sekolah meminta uang bekal makan siangnya. Dia bilang tidak. Si anak yang lebih tua itu lalu menghunus sebilah pisau panjang dan untuk kedua kalinya meminta uang. Dia kira itu cuma gertak sambal saja. Sekali lagi dia bilang tidak. Si penggertak tak pernah meminta untuk ketiga kalinya, dia langsung menikamkan pisaunya ke lengan si anak tujuh tahun, mencabutnya dan langsung kabur.

Dia bercerita bahwa dalam keterkejutan dia berlari pulang dari halaman sekolah, dengan darah mengucur dari lengannya, menuju rumah ayahnya yang tak jauh dari situ. Ayahnya yang pengangguran melihat sekilas pada lukanya lalu membawanya ke dapur, tetapi bukan untuk membalut lukanya. Sang ayah membuka laci dapur, mengambil sebuah pisau dapur yang besar, memberikannya kepada putranya, dan menyuruhnya kembali ke sekolah untuk membalas menikam si penggertak. Begitulah dia dibesarkan. Jika dia tidak tumbuh demikian besar dan kuat, pastilah dia sudah lama tewas.

Penjara itu memiliki peternakan di dalamnya, di mana para napi dengan masa hukuman pendek atau napi yang tak lama akan dibebaskan, dapat bersiap menghadapi kehidupan bebas di antaranya dengan belajar mengenai perdagangan dalam industri peternakan. Lebih lanjut, penjara ini memasok produk-produk makanan murah ke seluruh penjara di Perth, sehingga dapat menekan biaya. Peternakan Australia mengembangbiakan sapi, domba, dan babi, tidak hanya gandum dan sayur mayur; begitu pula dengan penjara yang satu ini. Namun tidak seperti peternakan lainnya, penjara ini mempunyai rumah jagalnya sendiri; langsung di tempat.

Setiap napi wajib punya pekerjaan di penjara ini. Saya mendapat informasi dari beberapa penghuni penjara bahwa pekerjaan sampingan yang paling banyak dicari adalah pekerjaan di rumah jagal. Pekerjaan ini terutama populer di kalangan para pelanggar kekerasan. Dan pekerjaan yang paling disukai, bahkan Anda harus bertarung mendapatkannya, adalah pekerjaan sebagai penjagal itu sendiri. Si raksasa Irlandia yang menakutkan itu adalah seorang penjagal.

Dia menggambarkan keadaan rumah penjagalan itu kepada saya. Pintu berjeruji dari baja antikarat yang super-kuat, lebar pada pembukaannya, turun menyempit ke sebuah lorong tunggal di dalam gedung, yang lebarnya hanya pas untuk satu ekor hewan pada satu saat. Di ujung lorong sempit itu, di atas sebuah landasan, dia kanan berdiri sambil memegang sebuah senapan listrik. Sapi, babi, atau domba akan dipaksa masuk ke lorong antikarat tersebut dengan menggunakan anjing-anjing dan cambuk. Dia berkata bahwa hewan-hewan itu akan selalu menjerit-jerit, dengan caranya masing-masing, mencoba untuk melarikan diri. Hewan-hewan itu dapat mencium bau kematian, mendengar suara kematian, merasakan kehadiran maut. Saat seekor hewan telah berada di sepanjang landasan, dia akan menggeliat, meronta, dan mengeluh dengan suara keras. Meskipun senapan listriknya mampu mematikan seekor banteng besar dengan sekali sengatan tegangan tinggi, tetapi hewan-hewan itu tak pernah berdiam cukup lama sampai dia dapat membidik dengan baik. Jadi ada sekali tembakan untuk membuat hewan itu terdiam, dan tembakan berikutnya untuk mematikannya. Satu tembakan untuk mendiamkan, tembakan berikut untuk mematikan. Hewan demi hewan. Hari demi hari. Orang Irlandia ini selalu merasa bergairah setiap kali mengalami kejadian itu, sampai beberapa hari belakangan ini, saat sesuatu yang sangat merisaukannya terjadi. Dia mulai menyumpah. Selanjutnya, dia terus mengulang, ?Demi Tuhan, ini sungguhan!? Dia khawatir kalau saya tidak mempercayainya.

Pada hari itu mereka membutuhkan daging sapi untuk penjara-penjara di sekitar Perth. Mereka tengah menjagal sapi. Satu tembakan untuk mendiamkan, tembakan berikut untuk membunuh. Dia menjalani hari-hari pembantaian seperti biasanya, sampai seekor sapi datang mendekat, dia belum pernah melihat ini sebelumnya. Sapi yang ini tenang. Bahkan tak terdengar suara lenguhan. Kepalanya menunduk ketika dia berjalan dengan penuh sengaja, dengan sukarela, perlahan-lahan menuju tempat di ujung landasan. Dia tak menggeliat, meronta, atau mencoba kabur. Begitu berada di posisinya, sapi itu mengangkat kepalanya dan memandang penjagalnya, dalam diam mencekam.

Belum pernah si Irlandia ini melihat hal-hal semacam ini sebelumnya. Pikirannya menjadi mati-rasa oleh kebingungan. Dia tak mampu mengangkat senapannya; pun tak mampu melepas tatapan matanya dari mata sapi itu. Sapi tersebut melihat tepat ke dalam dirinya. Dia tergelincir ke dalam ruang tanpa waktu. Dia tak dapat memberitahu saya berapa lama kejadian itu berlangsung, tetapi tatkala sapi itu membekukannya melalui kontak mata, dia memperhatikan sesuatu yang bahkan lebih menohoknya. Sapi memiliki mata yang sangat besar. Dia melihat pada mata kiri sapi itu, di atas kelopak bawahnya, air mulai merambang. Gumpalan air mata itu makin bertambah terus, sampai kelopak matanya tak dapat menampungnya lagi, air itu mulai menetes jatuh menyusuri pipinya, membentuk sungai air mata yang berkilauan tertimpa cahaya. Pintu relung hatinya mulai terbuka perlahan-lahan. Dalam ketidakpercayaan, dia melihat mata kanan sapi itu, di atas kelopak bawahnya, terkumpul lebih banyak air mata, yang terus berkumpul, melampaui daya tampung kelopaknya. Sebuah sungai air mata kedua menyusuri wajah sapi itu. Dan si besar Irlandia itu pun terkulai. Sapi itu menangis.

Dia bercerita kepada saya bahwa dia membuang senapannya, bersumpah bahwa petugas penjara boleh melakukan apa saja atas dirinya sejauh batas kemampuannya, ASALKAN SAPI ITU JANGAN DIBUNUH!

Dia mengakhiri kisahnya dengan memberi tahu saya bahwa dia sekarang menjadi seorang vegetarian.

Ini kisah nyata. Para penghuni lain di penjara itu mengkonfirmasikan kebenarannya kepada saya. Seekor sapi yang menangis telah mengajarkan seorang pria yang paling kejam arti kepedulian.


The rain stops at :
6:32 PM







159th day in SUNSHINE 2
27th day in 4th term


The rain stops at :
6:13 PM




Gundukan Pupuk Kandang by Ajahn Brahm


Hal-hal tidak menyenangkan, seperti duduk di peringkat terbawah di kelas kita, terjadi dalam kehidupan. Hal-hal itu dapat terjadi pada setiap orang. Perbedaan antara orang yang bahagia dan tertekan hanyalah pada bagaimana mereka bereaksi terhadap kemalangan.

Bayangkan anda baru saja mengalami suatu sore yang indah di pantai bersama seorang teman. Ketika anda kembali ke rumah, anda mendapati gundukan pupuk kandang tepat di depan pintu rumah anda. Ada 3 hal untuk diketahui sehubungan dengan gundukan pupuk kandang ini :
1. Anda tidak memesannya. Ini bukan kesalahan anda.
2. Anda merasa habis akal.Tak ada yang melihat siapa yg menimbunnya di situ, jadi anda tak dapat menelpon pelakunya utk menyingkirikannya.
3. Pupuk itu kotor dan semerbak memenuhi seluruh rumah anda. Sungguh tak tertahankan.

Pada perumpamaan ini, gundukan pupuk kandang di depan rumah anda melambangkan pengalaman2 traumatik yg menimpa kita dalam kehidupan. Seperti halnya dg gundukan pupuk kandang itu, ada 3 hal untuk diketahui sehubungan dengan tragedi dalam kehidupan kita.

1. Kita tak memesannya. Kita berkata : “Kenapa saya ?”
2. Kita merasa habis akal. Tak seorangpun, sekalipun teman terbaik kita dapat menyingkirikannya (meski mereka mencoba)
3. Tragedi itu sangat menyakitkan menghancurkan kebahagiaan kita, dan rasa sakit yang ditimbulkannya menghantui sepanjang hidup kita. Sungguh tak tertahankan.

Ada 2 cara merespon timpaan gundukan pupuk kandang itu. Cara pertama adalah membawa kotoran itu ke mana-mana bersama kita. Kita taruh segenggam di saku kita, sebagian di tas kita dan sebagian lai di baju kita. Kita bahkan juga menaruhnya di celana panjang kita. Kita dapati, ketika kita membawa kotoran itu ke mana-mana, kita kehilangan teman! Bahkan teman2 terbaik pun tampaknya tak begitu senang lagi dekat2 dg kita.

Membawa kotoran ke mana2 adalah perumpamaan untuk keadaan tenggelam dalam depresi, hal-hal negatif, atau amarah. Itu adalah sebuah respon terhadap kemalangan yang lumrah dan dapat dimaklumi. Tetapi kita kehilangan banyak teman, karena lumrah dan dapat dimaklumi pula jika teman2 kita tidak suka berada di samping kita yang selalu merasa depresi. Lagipula, dg cara ini gundukan kotoran itu sendiri tak menjadi berkurang, tapi baunya malah bertambah busuk.

Untunglah, ada cara kedua. Ketika kita tertimpa gundukan pupuk kandang, kita menghela napas, dan setelah itu mulai bekerja. Ambil gerobak dorong, garu dan sekop. Kita garu kotoran itu ke gerobak dorong, membawanya ke belakang rumah dan menguburnya di kebun kita. Memang ini sulit dan melelahkan, tetapi kita tahu tak ada pilihan lain. Kadang kita hanya mampu mengatasi separuh gerobag saja dalam sehari, namun kita melakukan sesuatu yang menyelesaikan masalah, daripada hanya mengeluh saja dan terbenam dalam depresi. Dari hari ke hari, kita menggaru dan mengubur kotoran itu. Dari hari ke hari gundukannya menjadi semakin berurang. Kadang diperlukan waktu beberapa tahun, namun pagi yang cerah tiba juga ketika gundukan kotoran di depan rumah kita tak berbekas lagi. Selanjutnya, sebuah keajaiban terjadi di belakang rumah kita. Bunga-bunga di kebun kita bermekaran dg warna-warni memenuhi setiap sudut. Keharuman menyebar sampai ke jalan, sehingga para tetangga bahkan orang lewat pun tersenyum bahagia karenanya. Lalu pohon buah yang tumbuh di sudut tanaman hampir rubuh karena begitu tergelayuti oleh buah-buahnya. Dan buahnya sungguh manis. Anda tak dapat membeli buah seperti itu. Ada begitu banyak buah, bahkan orang2 yg lewat pun dapat ikut menikmati sedapnya rasa buah ajaib itu.

“Mengubur kotoran” adalah perumpamaan untuk menyambut datangnya tragedi sebagai penyubur bagi kehidupan kita. Itu pekerjaan yang harus kita lakukan sendiri, tak ada yang dapat membantu kita. Namun dg menguburnya di taman hati kita, dari hari ke hari, gundukan rasa sakit itu semakin berkurang. Bisa saja itu membutuhkan beberapa tahun, namun pagi yg cerah akan tiba tatkala kita melihat tak ada lagi rasa sakit di dalam hidup kita dan di dalam hati kita, sebuah keajaiban telah terjadi. Bunga2 kebajikan bermekaran memenuhi seluruh tempat, dan harumnya cinta menyebar sampai jauh, ke para tetangga kita, teman kita, dan bahkan sampai juga ke orang2 yang tidak kita kenal. Lalu pohon kebijaksanaan yang tumbuh di sudut taman hati kita menjadi tergelayut karena saratnya buah pencerahan akan hakikat kehidupan. Kita dapat membagi-bagikan buah2 yg enak itu dengan gratis, bahkan kepada orang2 yg tdk kita kenal, tanpa sengaja merencanakannya.

Ketika kita telah mengenal rasa sakit yang tragis, pelajarilah pelajaran yang diberikannya, dan tumbuhkan taman kita, lalu kita dapat merangkulkan lengan kita dalam tragedi yang dalam dan berkata dg lembut, “ Aku tahu”. Mereka akan tahu bahwa kita telah paham. Belas kasih dimulai. Kita tunjukkan pada mereka gerobak dorong, garu, sekop dan dorongan semangat tanpa batas. Jika kita belum dapat menumbuh kembangkan taman kita sendiri, semua ini tak dapat kita lakukan.

Saya mengenal banyak bikkhu yg piawai dalam bermeditasi, yg penuh kedamaian, tenang dan tenteram dalam menghadapi kemalangan. Tetap hanya sedikit yg menjadi guru hebat. Saya sering heran mengapa bisa begitu.

Sekarang menjadi jelas bagi saya bahwa bikkhu2 yg relatif tidak banyak kemalangan, yg mempunyai sedikit kotoran utk dikuburkan, adalah mereka yg tidak menjadi guru2 hebat. Adalah bikkhu2 yg mengalami kesukaran yg besar,dg diam menguburkannya, dan datang dg taman yg subur, adalah mereka yang menjadi guru2 hebat. Mereka semua memiliki kebijaksanaan, ketenangan, dan belas kasih; tetapi hanya mereka yg memiliki kotoran lebih banyaklah yg dpt membagikannya kepada dunia. Guru saya, Ajahn Chan, yg bagi saya pribadi adalah menara dari semua guru, pasti memiliki armada truk pengangkut pupuk kandang yg berjejer di depan pintu rumahnya, pada masa2 awal kehidupannya.

Barangkali moral dari cerita ini adalah, jika anda ingin melayani dunia, jika anda ingin mengikuti jalan belas kasih, maka bila suatu ketika tragedi terjadi dalam hidup anda, anda dapat berkata, “Cihui ! Aku dapat banyak pupuk untuk taman saya”.


The rain stops at :
12:54 PM


Saturday, March 26, 2011


saya telah bertemu guru si cacing



FINALLLYYYY!!!!!!!!!!! I MET AJAHN BRAHM!!!!! \(ᵔOᵔ)/ HOOOOORRAAAYYYY!!!!!
Today is a really big day for me. Biiiiiiggg daaay! I met Ajahn Brahm! I went to his seminar at Kapuas Palace Function Hall. Wuaawwww…. It’s really a honor for me to meet him. I’m really happy. Happy. Some of his stories are already in his book. But, even though I’ve read some of his stories, it’s really fun because I could see his expression when he shared his experience. He is fun. Oh, I have ho idea to share anymore because I’m too happy to meet him. Oh, it’s the 1st time I met author of book and got his sign directly!!! c(ᵔ⌂ᵔ)ͻ


We’re waiting for the seminar…


Lots of participants in here…


Can you see AJAHN BRAHM??? He’s there, the left one.


And this is he on big screen, talking to audiences. Of course you can see him now.


This, I took his photo when he was signing on MY BOOK. ∩_∩


This, eva with Ajahn Brahm


He is the moderator


He is the translator


Eva n I with our classmate Lina and she is the committee


Still wanted to take picture with him


I’ve bought the 2nd book, “Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 2!” and both of my books have his sign ♥


His sign on my book

This was his 1st time in Pontianak. He said “People said Pontianak is hot but in fact, when I came here, the weather is cool” (it was raining when he came). Then he said the monk has own temperature control. He said “when weather is hot, we have cool mind. When weather is cool, we have warm heart.” ᵔ_ᵔ
Now, he is in jakarta. Thanks for everything to Ajahn Brahm. He has taught me many things. Hope I can meet him again. See you again Ajahn Brahm. And oh yea, get well soon (even though he’s sick, he still showed his best smile and did the seminar) :)

I really had great time today.
Let Go Ego!


The rain stops at :
5:49 PM


Sunday, March 20, 2011


percakapan ringan yang gak penting dgn andri (via chat)


>>>sil
>>>dri


...
gw baru pasang jebakan tikus niii
liat tangkapan bsk
hehe

astaga andriiiiiiii, kamu saking kesepiannya di rumah ampe nangkep tikus buat nemenin loeee?????
pray for andri: semoga hasil tangkapan andri banyak bsk
pray for the rats: semoga kalian semua dapat lolos

itu HAMA
di atas kamar gua kek nya ada 1 keluarga tikus yg harus di basmi
hahahha

wah, bagus lah. kan lu ADAM
oh, salah ya, itu hawa
ohhhhh mereka merajalela nih
hahahaha

hahhaa
iya tuh
gw merasa tidak nyaman
kwkwkwk
smg terbasmi
bapak nya serem si
gedeeee

BWAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!!!!!!!!! si kuskus (nama kecil bt si tikus) kan berusaha menjaga keluarganya. mungkin aj dy anggota polisi tikus. makany serem gitu. takut anak gadisny d bawa lari ma lu
HAHAHAHAHAHAHAHA

hahah
tapi jangan di rumah gua dong
tenang aja
gw akan memberi dia rumah baru
hahaha
kira2 dia demen keju basi ga ya?
gw memberi umpan itu
heheh

aduh driii, itu makanan tikus buleeee... ini kan di indooooooo
basi lagi
mana doyannnn
umpanny ikan asin laaaah
*eh, neneran loh
*eh, beneran loh
hahahahahaha
kebanyakan ntn tom n jerry lu
HAHAHAHAHAHAHAHA!!!!!!!

hhahah
ya di coba aja
uda a
ngantuk ni gw
gw tidr duluan ya

ok

hahahhaa

see yaaa
nite
lebih baik lain kali di kasi umpan ikan asin de
kakek gua dlu pke itu
berhasil aj tuh...
bye

haha
kita lihat hasil nya bsk
gw kabarin lagi d
ok d
nite ya
bye

ok. kabarin
:D

kita tunggu kabarnya...


The rain stops at :
10:45 PM




Taman Kuil by Ajahn Brahm


Kuil-kuil Buddhis di Jepang terkenal akan taman-tamannya.
Beberapa tahun yang lampau, terdapatlah sebuah kuil
yang membanggakan tamannya sebagai taman tercantik, diantara semuanya.
Para pelancong berdatangan dari pelbagai penjuru negeri
hanya untuk mengagumi penataannya yang elok,
yang begitu indah dalam kesederhanaannya.

Suatu ketika, seorang biksu tua datang berkunjung.
Dia tiba pagi-pagi sekali, persis setelah fajar.
Dia ingin menyelidiki mengapa taman itu dianggap sebagai
yang paling mengilhami;
jadi dia menyembunyikan dirinya di balik semak yang besar,
dengan sudut pandang yang bagus ke arah taman.


Dia melihat seorang biksu muda muncul dari kuil dengan
membawa dua keranjang anyaman untuk berkebun.
Selama tiga jam, dia memerhatikan biksu muda itu,
yang dengan hati-hati memungut setiap daun
dan ranting yang berjatuhan
dan pohon persik yang tersebar di tengah-tengah taman.

Setiap kali memungut daun dan ranting,
si biksu muda menaruhnya di atas tangannya yang lembut,
memeriksanya dan mempertimbangkan,
dan jika dia menyukai daun dan ranting itu,
dia akan meletakkannya ke dalam salah satu keranjang.
Jika dia merasa daun atau ranting itu tidak berguna baginya,
dia akan membuangnya ke dalam keranjang kedua, keranjang sampah.

Setelah mengumpulkan dan mencermati setiap daun dan ranting,
dia mengosongkan keranjang sampah diatas gundukan di belakang kuil,
dia berhenti sejenak untuk minum teh
dan menata pikiran untuk tahap penting berikutnya.

Si biksu muda melewatkan waktu tiga jam lagi,
dengan penuh perhatian, dengan hati-hati, dengan penuh keterampilan,
menaruh setiap daun dan ranting pada tempat yang semestinya di taman itu.

Jika dia merasa tidak puas dengan posisi sebuah ranting,
dia akan menggeser atau memindahkannya sedikit,
dan sembari tersenyum puas,
dia akan berpindah ke daun berikutnya,
memilih bentuk dan warna yang tepat untuk ditaruh di taman.

Perhatiannya terhadap hal-hal rinci sungguh tak tertandingi.
Penguasaannya atas seni menyusun bentuk dan warna sangat luar biasa.
Pemahamannya akan keindahan alaam begitu tinggi.
Saat dia menyelesaikan pekerjaannya, taman itu terlihat apik sekali.

Kemudian sang biksu tua melangkah masuk ke dalam taman.
Dari balik senyum gigi ompongnya, dia memberi ucapan selamat
kepada si biksu muda.

"Pekerjaan bagus! Pekerjaan sangat bagus, Yang Mulia!
Saya telah mengintip Anda sepanjang pagi.
Ketekunan Anda layak dipuji setinggi langit.
Dan taman Anda...Yah!
Taman Anda nyaris sempurna..."

Wajah biksu muda itu berubah pucat.
Tubuhnya jadi kaku serasa disengat kalajengking.
Senyum kepuasannya tergelincir dari wajahnya
dan jatuh terguling ke jurang besar kehampaan.
Di Jepang, Anda tak akan pernah bisa yakin dengan seringai
seorang biksu tua.

"Ma...mak...maksud Anda apa?" dia tergagap ketakutan.
"Ap... apa yang Anda maksud 'nyaris sempurna'?
dan dia menjatuhkan diri di kaki si biksu tua.

"Oh,Tuan! Oh,Guru! Kasihanilah saya.
Anda pasti telah dikirim oleh Buddha
untuk menunjukkan kepada saya bagaimana membuat
taman saya benar-benar sempurna.
Ajarkan saya, oh, Sang Bijak! Tunjukkanlah jalannya!"

"Anda benar-benar ingin saya menunjukkannya?"
tanya sang biksu tua dengan mimik purbanya yang mengerut usil.

"Oh,ya. Mohon. Tolong, Guru!"

Lalu sang biksu tua melangkah ke tengah-tengah taman.
Dia merangkulkan lengan-lengannya yang tua namun masih kuat itu
ke batang pohon persik yang rimbun.

Lantas, diiringi dengan gelak membahana seorang suci,
dia mengguncang-guncangkan pohon yang malang itu!
Dedaunan, ranting dan kulit pohon berserakan dimana-mana,
dan masih saja biksu tua itu mengguncang-guncangkan pohon itu.
Ketika tak ada lagi dedaunan yang jatuh, barulah dia berhenti.

Si biksu muda terperanjat.
Taman menjadi kacau balau. Kerja kerasnya sepagian jadi sia-sia belaka.
Rasanya dia ingin membunuh biksu tua itu,
namun sang biksu tua hanya melihat sekeliling untuk mengagumi hasil karyanya.

Lalu, dengan sebuah senyum yang meluruhkan amarah,
dia berkata lembut kepada si biksu muda,

"Sekarang taman Anda barulah benar-benar sempurna."


The rain stops at :
10:18 PM




Petunjuk Kedamaian Pikiran untuk Si Bodoh by Ajahn Brahm


Saya menceritakan kisah sebelumnya kepada sekelompok besar pendengar, pada suatu Jumat petang di Perth. Pada hari Minggu-nya, seorang ayah datang dengan marah-marah untuk berbicara kepada saya. Dia mengikuti ceramah tesebut dengan anak remajanya. Masalahnya, ketika hari Sabtu siang si anak ingin pergi bersama teman-temanya, si ayah bertanya kepada anaknya, "Kamu sudah bikin PR belum?" Anaknya menjawab,"Seperti yang diajarkan Ajahn Brahm semalam di wihara, Papa,[klik cerita sebelumnya:] Yang Sudah Selesai, Ya Sudah Selesai! Daa...daaaa.....!"

Pada hari minggu berikutnya saya menceritakan kisah yang lain.

Kebanyakan orang di Australia memiliki taman di rumahnya, tetapi hanya segelintir orang yang tahu bagaimana menemukan kedamaian di taman mereka. Bagiorang lainnya, taman hanyalah tempat bekerja yang lain, Jadi saya menganjurkan mereka yang punya taman untuk memelihara keindahan taman dengan berkebun sejenak, dan memelihara hati mereka dengan sejenak duduk dalam damai di tamannya, menikmatai berkah alam.

Orang Bodoh pertama akan berpikir, ini gagasan bagus yang mengasyikkan. Jadi pertama-tama mereka memutuskan untuk membereskan segala pekerjaan remeh-temeh, sesudah itu mereka baru melarutkan diri dalam kedamaian di taman. Jadi hamparan rumput harus dipotong, bunga perlu disirami, dedaunan perlu dipangkas, semak-semak harus dibabat, jalan setapak harus disapu.... Tentu saja itu semua menghabiskan seluruh waktu luang mereka, dan pekerjaan yang beres pun baru sebagian kecil. Pekerjaan mereka jadinya tak pernah selesai, dan mereka tak akan pernah memiliki sejenak waktu untuk diam dalam damai. Pernahkah Anda perhatikan bahwa di dalam budaya kita, orang-orang yang "istirahat dalam damai" hanya dapat ditemukan di pekuburan?

Orang bodoh kedua berpikir bahwa mereka lebih pintar dari orang bodoh pertama. Mereka menyingkirkan semua garu dan penyiram, lantas duduk di taman sambil membaca majalah, bisa jadi, yang berisi gambar pemandangan alam nan aduhai. Tetapi, itu berarti menikmati majalah, bukannya menemukan kedamaian di taman,

Orang Bodoh ketiga menyingkirakan semua peralatan berkebun, semua majalah, koran dan radio, dan duduk diam dalam damai di tamannya... selama kira-kira 2 detik! Lalu mereka mulai berpikir, "Rumput itu perlu dipotong dan semak-semak disana harus dibabat segera. Jika saya tidak menyiram bunga-bunga itu, mereka akan layu. Dan tanaman kaca-piring yang indah akan tampak bagus di sudut sana. Ya! Dengan sedikit hiasan tempat mandi burung di depan situ. Saya bisa membelinya di tempat pembibitan...." Itu sih namanya menikmati berpikir dan berencana. Tak ada kedamaian pikiran di situ.

Pekebun yang bijak akan mempertimbangkan, "Saya telah bekerja cukup lama, sekarang waktunya untuk menikmati buah dari pekerjaan saya untuk mendengarkan kedamaian. Jadi biarpun rumput perlu dipotong dan dedaunan harus dipangkas dan bla, bla, bla! TIDAK SEKARANG." Dengan cara inilah, kita temukan kebijaksanaan untuk menikmati taman, sekalipun tidak sempurna.

Siapa tahu ada seorang biksu tua Jepang (Note: Siapa itu biksu tua Jepang? dapat anda baca di cerita [klik:] Taman Kuil) bersembunyi di balik salah satu semak dan siap untuk melompat keluar dan membeitahu kita betapa sempurnanya taman tua kita yangberantakan. Sungguh, jika kita memusatkan perhatian kepada pekerjaan yang telah kita selesaikan, mungkin kita akan mengerti bahwa yang sudah selesai, ya sudah selesai. Namun jika kita memusatkan perhatian hanya untuk melihat kesalahan pada sesuatu yang harus diperbaiki, seperti dalam kasus [klik:] tembok bata di wihara saya, kita tidak akan pernah tahu apa itu kedamaian.

Pekebun yang bijak akan menikmati lima belas menit kedamaian di tengah kesempurnaan dari tidak sempurnanya alam, tidak berpikir, tidak berencana, dan tidak merasa bersalah. Kita semua berhak untuk pergi dan mendapatkan kedamaian; tetapi orang lain pantas kehilangan kedamaian dengan cara mereka sendiri! Lalu setelah memperoleh bagian penting dan vital dari lima belas menit dalam damai, kita bisa meneruskan tugas berkebun kita.

Saat memahami bagaimana menemukan kedamaian di taman, kita akan tahu bagaimana menemukannya kapan saja, di mana saja. Khususnya kita akan tahu bagaimana menemukan kedamaian di dalam taman hati kita, sekalipun pada saat kita berpikir bahwa ada begitu banyak ketidakberesan, begitu banyak yang harus diselesaikan.


The rain stops at :
10:13 PM




Ayam dan Bebek by Ajahn Brahm


Sepasang pengantin baru tengah berjalan bergandengan tangan di sebuah hutan pada suatu malam musim panas yang indah, seusai makan malam. Mereka sedang menikmati kebersamaan yang menakjubkan tatkala mereka mendengar suara di kejauhan: “Kuek ! Kuek !”

“Dengar, itu pasti suara ayam”, kata si istri.

“Bukan, bukan. Itu suara bebek, “kata si suami.

“Nggak, aku yakin itu ayam,” si istri bersikeras.

“Mustahil. Suara yam itu ‘kukuruyuuuuk !’, bebek itu ‘kuek ! kuek !. Itu bebek, sayang “, kata si suami dengan disertai gejala-gejala awal kejengkelan.

“Kuek ! kuek !” terdengar lagi.

“Nah, tuh ! Itu suara bebek, “ kata si suami.

“Bukan, sayang. Itu ayam. Aku yakin betul,” tanda si istri sembari menghentakkan kaki.

“Dengar ya ! Itu a…da…lah…. Be…bek. B-E-B-E-K. Bebek ! Mengerti ?” si suami berkata dengan gusar.

“Tapi itu ayam”, masih saja si istri bersikeras.

“Itu jelas-jelas bue..bebek, kamu…kamu….” (terdengar lagi suara “Kuek ! Kuek !” sebelum si suami mengatakan sesuatu yang sebaiknya tak dikatakannya.)

Si istri sudah hampir menangis, “Tapi itu ayam…. “

Si suami melihat air mata yang mengambang di pelupuk mata istrinya, dan akhirnya ingat kenapa dia menikahinya. Wajahnya melembut dan katanya dengan mesra, “Maafkan aku, sayang. Kurasa kamu benar. Itu memang suara ayam kok.”

“Terima kasih, sayang, “ kata si istri sambil menggenggam tangan suaminya.

“Kuek ! Kuek !”, terdengar lagi suara di hutan, mengiringi mereka berjalan bersama dalam cinta.

Maksud dari cerita di atas bahwa si suami akhirnya sadar adalah siapa sih yang peduli itu ayam atau bebek? Yang penting adalah keharmonisan mereka, yang membuat mereka dapat menikmati kebersamaan pada malam indah itu. Berapa banyak hubungan yang hancur hanya gara-gara persoalan sepele? Berapa banyak perceraian terjadi karena hal-hal “ayam atau bebek”?

Ketika kita memahami cerita tersebut, kita akan ingat apa yang menjadi prioritas kita. Pernikahan jauh lebih penting ketimbang mencari siapa yang benar tentang apakah itu ayam atau bebek. Lagi pula, betapa sering kita merasa yakin , amat sangat mantap, mutlak bahwa kita itu benar, namun belakangan ternyata kita salah. Lho, siapa tahu? Mungkin saja itu adalah ayam yang direkayasa genetik sehingga bersuara seperti bebek!


The rain stops at :
10:10 PM




Rasa Bersalah dan Pengampunan Oleh Ajahn Brahm


Beberapa tahun yang lampau, seorang wanita muda Australia datang menemui saya di wihara saya di Perth. Para bhikkhu memang sering dimintai nasihat untuk masalah-masalah umat, barangkali karena kami tidak pernah minta bayaran. Wanita ini datang dengan rasa bersalahnya. Enam bulan sebelumnya, dia mengajak sahabat dan pacar sahabatnya untuk berpergian naik mobil ke padang rumput. Sahabatnya tidak ingin pergi, begitupun pacarnya, tetapi tak asyik rasanya kalau main sendirian saja. Jadi dia membujuk dan merengek sampai akhirnya mereka menyerah dan bersedia pergi bersama-sama.
Lalu terjadilah kecelakaan: mobil mereka tergelincir di jalan batu yang longsor. Sahabatnya tewas, pacar sahabatnya lumpuh. Itu adalah gagasannya, tetapi dia sendiri selamat. Dia bercerita kepada saya dengan duka di matanya : “Kalau saja saya tidak memaksa mereka untuk pergi, sahabat saya pasti masih hidup dan pacarnya tidak akan kehilangan kaki. Seharusnya saya tidak membuat mereka pergi dengan saya. Saya merasa sangat bersalah.”
Pikiran pertama yang melintas di benak saya adalah untuk menenangkannya bahwa itu semua bukan salahnya. Dia tidak merencanakan untuk mengalami kecelakaan itu. Dia tidak berniat menyakiti sahabatnya. Semuanya sudah terjadi. Jangan merasa bersalah. Namun, pikiran berikutnya yang melintas adalah, “Berani taruhan dia pasti sudah mendengar nasehat semacam itu, ratusan kali dan tampaknya tidak mempan.”
Jadi saya diam sejenak, merenungkan situasinya lebih dalam, lalu saya katakan kepadanya bahwa bagus juga kalau dia merasa begitu bersalah. Wajahnya berubah dari sedih menjadi terkejut, dan dari terkejut menjadi lega. Dia belum pernah mendengar perkataan seperti itu sebelumnya : bahwa dia semestinya merasa bersalah. Dugaan saya benar. Dia merasa bersalah akan perasaan bersalahnya. Dia merasa bersalah dan setiap orang bilang bahwa dia tidak boleh merasa bersalah. Karena itu, dia merasa “dua kali bersalah”, merasa bersalah karena kecelakaan itu dan merasa bersalah atas perasaan bersalahnya. Begitulah cara kerja pikiran kita yang ruwet ini.
Hanya ketika kita telah mengatasi lapisan pertama perasaan bersalahnya dan menegaskan bahwa tidak apa-apa kalau dia merasa bersalah, barulah kita bisa melanjutkan ke tahap berikut pemecahan masalahnya : “Lalu Sekarang bagaimana?”
Ada pepatah Buddhis yang sangat membantu : “Daripada mengeluhkan kegelapan, lebih baik menyalakan lilin.” Perasaan bersalah pada hakikatnya berbeda dengan penyesalan. Didalam kebudayaan kita, “bersalah” adalah keputusan yang diketok-palukan oleh hakim pengadilan. Dan jika tak ada seorang pun yang menghukum kita, kita akan menghukum diri sendiri, dengan satu dan lain cara. Perasaan bersalah berarti hukuman di dalam batin kita.
Jadi, wanita muda ini memerlukan suatu kiat pengampunan untuk membebaskannya dari perasaan bersalah. Sekadar memberitahukannya untuk melupakan apa yang terjadi tampaknya tak berkhasiat. Saya menyarankannya untuk menjadi relawan disebuah unit rehabilitasi korban kecelakaan lalu lintas di rumah sakit setempat. Karena di sini, saya piker, dia akan menanggalkan rasa bersalahnya dengan bekerja keras dan juga seperti yang biasanya terjadi pada kerja sukarela, dia akan sangat terbantu oleh orang-orang yang dibantunya.


The rain stops at :
10:10 PM




Dua Bata Jelek by Ajahn Brahm


Setelah kami membeli tanah untuk vihara kami pada tahun 1983, kami jatuh bangkrut. Kami terjerat hutang. Tidak ada bangungan diatas tanah itu, pun tidak sebuah gubuk. Pada minggu-minggu pertama kami tidur diatas pintu-pintu tua yang kami beli murah dari pasar loak. Kami mengganjalkan dengan batu bata pada setiap sudutnya untuk meninggikannya dari tanah (tak ada matras--tentu saja, kami kan bhikkhu hutan).

Bhikkhu kepala mendapatkan pintu yang paling bagus, pintu datar. Pintu saya bergelombang dengan lubang yang cukup besar ditengahnya, di mana dulunya tempat pegangan pintu. Saya senang karena gagang pintu itu telah dicopot, tetapi lantas jadinya ada lubang persis ditengah-tengah ranjang pintu saya. Saya melucu dengan mengatakan bahwa sekarang saya tidak perlu bangkit dari ranjang jika ingin pergi ke toilet !. Kenyataannya, bagaimanapun juga, angin masuk melalui lubang itu. Saya jadi tak bisa tidur nyenyak selama malam-malam itu.

Kami hanyalah bhikkhu-bhikkhu miskin yang memerlukan sebuah bangunan. Kami tak mampu membayar tukang--bahan-bahan bangunannya saja sudah cukup mahal. Jadi saya harus belajar cara bertukang : bagaimana mempersiapkan pondasi, menyemen dan memasang batu bata, mendirikan atap, memasang pipa-pipa--pokoknya semua. Saya adalah seorang fisikawan teoritis dan guru SMU sebelum menjadi Bhikkhu, tidak terbiasa bekerja kasar. Setelah beberapa tahun, saya menjadi cukup terampil bertukang, bahkan saya menjuluki tim saya sebagai BBC (Buddhist Building Company). Akan Tetapi, pada saat memulainya, hal itu sangatlah sulit.

Kelihatannya gampang membuat tembok dengan batu bata: tinggal tuangkan seonggok semen, sedikit ketok sana, sedikit ketok sini. Ketika saya mulai memasang batu bata, saya ketok satu sisi untuk meratakannya, sisi lainnya jadi naik. Lalu saya ratakan sisi itu, batu batanya jadi melenceng. Setelah saya ratakan kembali, sisi yang pertama jadi terangkat lagi. Coba saja sendiri!

Sebagai seorang Bhikkhu, saya memiliki kesabaran dan waktu sebanyak yang saya perlukan. Saya pastikan setiap batu bata terpasang sempurna, tak peduli berapa lama jadinya. Akhirnya saya menyelesaikan tembok batu bata saya yang pertama dan berdiri dibaliknya untuk mengagumi hasil karya saya. Saat itulah saya memperhatikannya --- oh, tidak! -- saya telah keliru menyusun dua batu bata. Semua batu bata lain sudah lurus, tetapi dua bata tersebut tampat miring. Mereka terlihat jelek sekali. Mereka merusak keseluruhan tembok. Mereka meruntuhkannya.


Saat itu, semennya sudah terlanjur terlalu keras untuk mencabut dua batu bata itu, jadi saya bertanya kepada kepala vihara apakah saya boleh membongkar tembokk itu dan membangun kembali tembok yang baru, atau kalau perlu, meledakkannya sekalian. Saya telah membuat kesalahan dan saya menjadi gundah gulana. Kepala vihara bilang tidak perlu, biarkan saja temboknya seperti itu.

Ketika saya membawa para tamu pertama berkunjung keliling vihara setengah jadi kami, saya selalu menghindari membawa mereka melewati tembok bata yang saya buat. Saya tak suka jika ada orang yang melihatnya. Lalu suatu hari, kira-kira 3-4 bulan setelah saya membangun tembok itu, saya berjalan dengan seorang pengunjung dan dia melihatnya.

"itu sebuah tembok yang indah", ia berkomentar dengan santainya.

"Pak," saya menjawab dengan terkejut, "apakah kacamata Anda tertinggal di mobil ? Apakah penglihatan Anda sedang terganggu ? Tidakkah Anda melihat dua batu bata jelek yang merusak keseluruhan tembok itu ?"

Ucapan dia selanjutnya telah mengubah keseluruhan pandangan saya terhadap tembok itu, berkaitan dengan diri saya sendiri dan banyak aspek lainnya dalam kehidupan. Dia berkata, "Ya, Saya dapat melihat dua bata jelek itu, tetapi saya juga dapat melihat 998 batu bata yang bagus."

Saya tertegun. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga bulan, saya mampu melihat batu bata-batu bata lainnya selain dua bata jelek itu. Di atas, di bawah, sebelah kiri, dan sebelah kanan dari dua batu bata jelek itu adalah batu bata-batu bata yang bagus, batu bata yang sempurna. Lebih dari itu, jumlah bata yang terpasang sempurna, jauh lebih banyak daripada dua batu bata jelek itu. Sebelumnya mata saya hanya terpusat pada dua kesalahan yang telah saya perbuat, saya terbutakan akan hal-hal lainnya. itulah sebabnya saya tak tahan melihat tembok itu, atau tak rela membiarkan orang lain melihatnya juga, itulah sebabnya saya ingin menghancurkannya. Sekarang saya dapat melihat batu bata-batu bata yang bagus, tembok itu jadi tampak tak terlalu buruk lagi. itu menjadi, seperti yang dikatakan pengunjung itu, "Sebuah tembok yang indah." Tembok itu masih tetap berdiri sampai sekarang, setelah dua puluh tahun, tetapi saya sudah lupa persisnya di mana dua bata jelek itu berada. Saya benar-benar tak dapat melihat kesalahan itu lagi.

Berapa banyak orang yang memutuskan hubungan atau bercerai karena semua yang mereka lihat dari diri pasangannya adalah "dua bata jelek"? Berapa banyak diantara kita yang menjadi depresi atau bahkan ingin bunuh diri, karena semua yang kita lihat dalam diri kita hanyalah "dua bata jelek"? Pada kenyataannya, ada banyak, jauh lebih banyak batu bata yang bagus--di atas, di bawah, ke kiri, ke kanan dari yang jelek--tetapi pada saat itu kita tak dapat melihatnya, mata kita hanya terfokus pada kekeliruan yang kita perbuat. Semua yang kita lihat adalah kesalahan, dan kita mengira hanya ada kekeliruan semata, karenanya kita ingin menghancurkannya. Dan terkadang, sayangnya, kita benar-benar menghancurkan sebuah "tembok yang indah".

Kita semua memiliku "dua bata jelek", tetapi bata yang baik dalam diri kita masing-masing, jauh lebih banyak daripada yang jelek. Begitu kita melihatnya, semua akan tampak tak begitu buruk lagi. Bukan hanya kita dapat berdamai dengan diri sendiri, termasuk dengan kesalahan-kesalahan kita, tetapi kita juga dapat menikmati hidup bersama rekan kita. Ini kabar buruk bagi pengacara urusan perceraian, tetapi kabar baik bagi Anda.


Saya telah beberapa kali menceritakan anekdot ini. Pada suatu pertemuan, seorang tukang bangunan mendatangi dan memberitahukan saya tentang rahasia profesinya.

"Kami para tukang bangunan selalu membuat kesalahan," katanya, "tetapi kami bilang ke pelanggan kami bahwa itu adalah "ciri unik" yang tiada duanya di rumah-rumah tetangga. Lalu kami menagih biaya tambahan ribuan dollar!"

Jadi, "ciri unik" di rumah Anda bisa jadi awalnya adalah suatu kesalahan. Dengan cara yang sama, Apa yang Anda kira sebagai kesalahan pada diri Anda, Rekan Anda, atau hidup pada umumnya, dapat menjadi sebuah "ciri unik", yang memperkaya hidup Anda di dunia ini, begitu Anda tidak terfokus padanya.


The rain stops at :
10:07 PM




bertemu guru si cacing




you see? i got AJAHN BRAHM seminar ticket and good news for me!!! finally there's someone will accompany me to go AJAHN BRAHM's seminar. she is: EVA. waaaaahhhhh...
can't wait for next saturday ♥


The rain stops at :
9:55 PM


Saturday, March 19, 2011


Rasa Bersalah Para Penjahat By Ajahn Brahm


Sebelum saya tertimpa tugas terhormat yg membebani sbg kepala wihara, dulunya sy sering mengunjungi penjara-penjara di perth. Sy menyimpan baik2 catatan mengenai tugas pelayanan di penjara ini karena bisa sy pakai sbg kredit prestasi seandainya sy sendiri sampai harus dipenjara!
Pd kunjungan perdana sy ke sebuah penjara besar di Perth, sy terkejut dan terkesan akan banyaknya narapidana yg menghadiri ceramah mengenai meditasi yg sy bawakan. Ruangan pertemuan penuh sesak. Sekitar 95% dari populasi penjara hadir untuk belajar meditasi. Makin lama sy berbicara, rupanya makin gelisahlah para pendengar sy. Baru 10 menit berlalu, seorng narapidana, salah satu penjahat paling kondang di penjara, mengangkat tangannya utk bertanya. Saya mempersilahkannya.

“Apa betul “tanyanya, “dengan meditasi kita bisa terbang?”

Sekarang sy sudah tahu mengapa ada begitu banyak narapidana yg dtg ke ceramah sy. Rupanya mereka semua berencana belajar meditasi supaya bs terbang melewati tembok penjara!
Sy bilang kpd mereka bahwa hal itu mungkin yg berbakat istimewa saja, dan itu pun setelah berthn thun latihan. Pada kesempatan berikutnya sy dtg utk mengajar di penjara itu lg, hanya ada 4 org narapidana yg msh setia mengikuti ceramah sy.
Setelah beberapa thn mengajar di penjara, sy jd mengenal beberapa penjahat dg akrab. Salah satu hal yg sy temukan adlh bahwa setiap penjahat merasa bersalah terhadap apa yg tela mereka lakukan. Mereka merasakannya siang dan malam, dlm lubuk hati yg terdalam. Mereka hanya memberitahukan hali ini kpd tmn dekat sj. Di depan public, mereka menampilkan wajah sangat khas penjahat. Tetapi bila mereka bisa mempercayai anda, ketika mereka menganggap anda sebagai pembimbing spiritual mereka, meskipun utk sejenak sj, mereka akn membuka diri dan mengungkapkan rasa bersalah yg memedihkan.


The rain stops at :
5:52 PM




Mensyukuri Kekurangan By Ajahn Brahm


Seusai sebuah upacara pernikahan di Singapura, beberapa tahun yg lalu, sang ayah mertua memanggil menantu barunya ke pojok untuk memberinya nasihat ttg bagaimana agr pernikahannya awet dan bahagia. “kamu mungkin sangat mencintai anak saya”, katanya kepada si pemuda. “ya, iya dooong…”, desah si pemuda.
“dan Kamu mungkin berpikir dialah perempuan paling hebat di dunia” sambung si mertua.
“dia begitu sempurna dalam segala hal, “si menantu mengiyakan dengan nada kurang sabar.
“itulah yg kamu rasakan sewaktu baru menikah,” kata si mertua. “namun setelah beberapa thn, kamu akan mulai melihat kekurangan2 anak saya. Saat kamu mulai menyadarinya, saya ingin kamu ingat ini: jika dia tidak punya kekurangan2 itu, menantuku, dia mungkin sudah menikah dg org lain yg jauh lebih baik dr kamu”.
Jadi, kita harus bersyukur atas kekurangan2 pasangan kita, karena jika sedari awal mereka tidak memiliki kekurangan2 itu, mereka sudah akan menikah dg org lain yg jauh lebih baik drpd kita.


The rain stops at :
5:47 PM




si cacing dan kotoran kesayangannya




i bought this book on monday (14th march) and this book is good.
the author:

AJAHN BRAHM, will come to to pontianak. Lina had been asking me to go but in that time, i haven't read this book and i don't know about him. after i bought this book, i want to go his meeting so badly. with Rp25.000 for the ticket, i bought it and i will go by my self. nobody wants accompany me to go and i know the reason:
1. most of my friends still don't know about him
2. his book is about life lessons and i think it's not in most-read-book-for-teenager list
3. his meeting is seminar and it'll be bored for most people
4. his seminar will be held for 4 hours until 10pm



waah, pls someone accompany me to gooooooo. i want it so badly (*still hope even though i know no one will TT.TT)

if you haven't read this book, i suggest you to read it. it's good!
for more info click me.


The rain stops at :
5:08 PM




i miss you...




The rain stops at :
5:07 PM




bla bla bla


… (*thinking for the opening word)

… … (*still thinking)

(*okay, now i'll start)

Hmmm… still bad connection problem makes me can’t keep posting my blog. And the story for this week, ummmm i was super furious with seniors at working place until I slammed office door (it’s long story to tell – and for clarification, that’s their fault and they admitted it).

I had new residents at home: 2 fishes which i don't know their name :D



I bought them last Wednesday and bought 2 golden fishes again for the next day (which died in the evening because they fight each other ‾⌂‾ꜝ)

I had school trip last Friday (11th march) and my destination: Supadio Airport . What a great school trip because we went there with nice weather and nice location. We didn’t go to public area instead we went to the fire car’s area and it was huge field and you know, the first thing that came to my mind: NICE LOCATION FOR PHOTO SHOOT!!!! ‾ᴥ‾
Maybe I’ll try next time but I’m not sure that public can reach that area without permission.







for more info click me

For the story about my sunflower plant, oh they are taller now even though they were planted in same time. I made something from origami paper and laminate plastic:



My masterpiece: key hanger :D


The rain stops at :
4:53 PM







154th day in SUNSHINE 2
22th day in 4th term


The rain stops at :
3:57 PM


Sunday, March 13, 2011





149th day in SUNSHINE 2
17th day in 4th term


The rain stops at :
8:42 PM


Sunday, March 06, 2011





what a really bad mobile internet connection. only in school area that got strong signal. T.T

well, last monday i planted 3 sunflower seeds and i gave sign on them:

and this, after a week. it grows taller (this is the one that not inside vase):

hope it'll grow faster. can't wait to see them bloom!!!
:D


The rain stops at :
8:00 PM







144th day in SUNSHINE 2
13th day in 4th term


The rain stops at :
7:54 PM


W E L C O M E



Welcome to my blog. thanks for viewing this page. hope you can enjoy it and sorry for the lameness that i wrote.

O W N E R



About Me Myspace Comments
MyNiceSpace.com

ABOUT THE OWNER:
I’m SiL. Indonesian girl. Born n stay in Equator city. Love casual style. Like rainy day and the weather after it. Love to enjoy music and photography art. Love action movie. Wanna try to play kite. and uh... i have no idea anymore to introduce my self. you can find it out.



Leave me a message



ARCHIVE

September 2008
October 2008
November 2008
December 2008
January 2009
February 2009
March 2009
April 2009
May 2009
June 2009
July 2009
August 2009
September 2009
October 2009
November 2009
December 2009
January 2010
February 2010
March 2010
April 2010
May 2010
June 2010
July 2010
August 2010
September 2010
October 2010
November 2010
December 2010
January 2011
February 2011
March 2011
April 2011
May 2011
June 2011
July 2011
August 2011
September 2011
October 2011
December 2011
January 2012
February 2012
March 2012
April 2012
May 2012
June 2012
July 2012
September 2012
November 2012
January 2014




Abun
Abeng
Ani
Andri
Christina
Eva
Friends English
Gredy
Huang Lao Shi - dewi chen
Nicky
Novee
Olip
Retno
rainb0ww0rds
Sharon
SS
Tiffany William



4shared
beliefnet
brainyquote
chickensoup
imageshack
lyrics.co.id
mp3raid
poemsource
PHOTOPOSTBLOG
Radita Dika
Manga.gamestotal
Sahabat Petrus
SMA Petrus
tagmypals
Today's Quotes
youtube


Google Translater
inbahasa (inggris-indonesia)
kamus bahasa Indonesia (KBBI)
indonesia-inggris, inggris-indonesia



Thanks For My Visitors